"Kalau impianmu tak bisa membuatmu takut, mungkin karena impianmu tak cukup besar."
-Muhammad Ali-
Dalam sebuah kejadian pasti ada hikmah yang bisa diambil. Baik kejadian yang menyusahkan, menyedihkan ataupun menyenangkan. Begitu pula dengan pandemi corona yang masuk ke Indonesia, memberikan kita semua hikmah yang sangat luar biasa. Bagi kami guru se-Indonesia, sistem pembelajaran daring dadakan pun menorehkan kisah seru yang sayang jika kami lewatkan begitu saja.
Awal April menjadi gerbang pembuka bagi guru se- Indonesia untuk menorehkan kisah seru masing-masing selama WFH. Begitu juga saya, awalnya mendapat info dari kakak sekaligus senior saya Yudha Kusumawati yang mengajak untuk ikut Nubar Guru se-Indonesia dengan tema "Suka Duka Ngajar Online" yang digawangi oleh Penerbit Buku Omera, Banyumas. Saya pun akhirnya mendaftar, dengan harapan kami bisa satu angkatan sehingga nanti nama kita bisa jadi satu dalam buku yang akan terbit. Oya, sebelumnya nama kami juga sudah berada dalam satu buku Asyiknya belajar Fisika (True Story) yang rencana akan saya review hari ini.
Qodarullah, karena begitu antusias dan banyaknya guru yang berminat menuliskan kisah mereka, jadilah saya dan kakak terpisah. Kakak saya berada di batch 2 yang berarti akan cetak lebih dulu. Saya berada di batch 3, yang paling bontot nyetaknya, hehe. Ya sudah, ga papa kami terpisah, justru nanti kita bisa saling menukar buku dan memiliki koleksi buku hasil Nubar Guru Omera yang berbeda.
Awal-awalnya masih malas juga menulis. Namun akhirnya dengan kemampuan menulis yang ala kadarnya saya pun menulis kisah selama daring dengan siswa-siswa saya. Tulisan selesai dan saya kirim sehari sebelum deadline, malam-malam pula pukul 23 lebih. Alhamdullillah paginya sudah dapat balasan e-mail dari pihak Omera yang mengabarkan naskah sudah sesuai tema dan rules penulisan yang ditentukan. Tinggal menunggu terbitnya saja.
Akhirnya kemarin pukul 13.00, mbak Moon, sang ketua project sekaligus editor, mengumumkan bahwa buku Nubar Guru se-Indonesia dilaunching. Alhamdulillah, edisi ke-3 buku Nubar telah terbit. Begitu melihat sampul bagian belakang,saya terharu (lebay,red), nama saya dan sedikit tulisan saya terpampang di sana. Ada rasa berbeda ketika buku ini terbit. Campur aduk, bahagia sekaligus terharu karena nama madrasah sayapun tertulis di sampul belakang bersanding dengan nama pena saya.
Mungkin bagi orang lain biasa, tapi bagi saya ini hal luar biasa. Karena belum ada yang bisa saya sumbangsihkan kepada madrasah, terutama prestasi, namun hanya sebuah tulisan kecil yang belum bernilai banyak. Sebuah persembahan kecil untuk madrasahku. Walaupun tulisan saya bukan yang terbaik dan belum masuk kategori favorit, namun tertulis di sampul belakang mewakili gambaran isi bukunya. Baru ini yang dapat saya persembahkan untuk madrasahku, yang nantinya tersebar ke seluruh Indonesia.
Mungkin itu saja yang dapat saya tuliskan teman-teman. Terima kasih spesial kepada seorang sahabatku yang ikut mensupport dan menangis untukku, hehe. Terima kasih madrasahku, kepala madrasah, teman-teman rekan guru, keluargaku (terutama kakak-kakakku) dan siswa-siswaku yang telah memberi inspirasi luar biasa ini. Jayalah madrasahku!*
Salam literasi! Semangat selalu menulis, menebarkan motivasi dan inspirasi. Dan tetap semangat ya puasanya, :-).
24 Ramadhan 1441 H
(17 Mei 2020 , Selamat Hari Buku Nasional)
* Untukmu MA Muro'atuddin dan MA Al Hidayat Ginuk


Tidak ada komentar:
Posting Komentar