PIPIT SI PINCANG - Ruang Nina

Post Top Ad

Responsive Ads Here

Kamis, 25 Juni 2020

PIPIT SI PINCANG


(Foto : Google)

Siang itu matahari begitu terik. Sekawanan burung gereja mematuk-matuk padi yang sedang di jemur oleh pemilik penggilingan. Mereka bersiul-siul sangat gembira. Padi yang di jemur begitu berlimpah. Mereka setiap hari datang untuk mencari makanan di tempat itu.

Agak jauh dari tempat burung-burung gereja bergerombol, nampak seekor burung pipit juga sedang mematuk-matuk padi yang tengah dijemur.

“Hei lihat, si pincang itu datang lagi kemari!” kata Ara sang ketua gerombolan burung gereja itu.

“Aku saja jijik melihat kaki dan bulunya. Jangan sampai kalian dekat-dekat dengannya,” imbuh Mona, seekor burung gereja betina yang tercantik di antara betina-betina lainnya.

“Kalau dia mendekat, ayo kita usir!” katanya lagi.

Semua burung gereja mengangguk setuju. Mereka melanjutkan menari dan menyanyi sambil terus mematuk padi-padi yang sudah mulai mengering itu.

Sementara itu Pipit hanya bisa memandang dari jauh, sambil membayangkan alangkah indahnya hidup mereka, selalu bergerombol, bernyanyi dan menari bersama. Sedangkan aku? Aku hanya seekor burung pipit yang berkaki pincang dan berbulu rontok, ratapnya sedih.

Begitulah Pipit sering bersedih, sejak ayah dan ibunya diburu oleh penjual burung, hidupnya terasa sepi. Tidak ada kawan yang mau bermain dengannya. Kakinya yang pincang dan bulunya yang selalu rontok, membuatnya menjadi burung pipit terjelek di dunia.

***

Siang itu cuaca tidak begitu panas, Pipit sudah datang ke tempat penggilingan padi sejak pagi tadi. Gerombolan burung gereja belum terlihat di area itu. Dari pintu gerbang masuklah seorang laki-laki yang sudah tidak asing bagi Pipit. Ya, dia adalah penjual burung yang menangkap ayah dan ibunya. Mau apa dia kemari, tanyanya dalam hati.

            Terlihat dia menemui Pak Wid, pemilik penggilingan padi ini. Mereka berdua terlibat dalam pembicaraan. Lamat-lamat dia mendengar penjual burung itu meminta ijin dari Pak Wid, untuk menangkap burung gereja yang banyak berkeliaran di tempat itu. Sudah bisa dibayangkan, jika mereka tertangkap, mereka akan dicat warna-warni dan dijual dengan harga yang sangat murah.

 Tiba-tiba terdengar riuh suara siulan dari mulut-mulut mungil sekawanan burung gereja. Rupanya Ara dan teman-temannya sudah datang. Aku tahu apa yang harus aku lakukan, kata Pipit dalam hati.

Segera dia terbang mendekati Ara dan teman-temannya. Setelah mendarat dengan tidak sempurna, Pipit segera mendekati mereka. Namun Ara dan teman-temannya segera memandangnya dengan tatapan sinis.

“Menjauhlah dari kami!” usir Ara.

“Tenang kawan, aku hanya ingin memberitahu kalian. Segeralah pergi dari sini. Laki-laki disana akan segera menangkap kalian.” terang Pipit.

Sontak semua burung gereja semakin memandang sinis dan tajam ke arah Pipit.

“Kami tidak percaya! Kamu pasti iri dengan kami yang sempurna, dan kamu ingin menguasai padi-padi yang melimpah ini bukan?” Ara berbicara lantang.

“Tidak, kawan. Percayalah padaku. Aku sangat hafal dengan laki-laki itu. Dia yang sudah membawa pergi ayah dan ibuku.” jawab Pipit.

Akan tetapi tetap saja sekawanan burung gereja itu tidak menggubris kata-kata Pipit.

“Pergilah dari sini!” usir Mona dengan nada keras dan mendorong Pipit hingga tersungkur karena kondisi kakinya yang tidak stabil.

Belum sempat Pipit berdiri dari tempatnya jatuh, tiba-tiba suara jeritan burung gereja terdengar sangat riuh dari dalam jaring laki-laki penjual burung. Dia juga ikut terjebak di dalamnya. Rupanya laki-laki itu sudah memasang jaring dengan cepat.

Penjual burung itu memandang Pipit dengan iba. Dia mengambil Pipit dari dalam jaringnya dan membiarkan Pipit terbang dengan lemas. Ara, Mona dan teman-temannya masih riuh di dalam jaring lelaki itu. Mereka menatap Pipit dengan penuh penyesalan. Pipit hanya bisa memandang dengan sedih kepergian mereka. Sekali lagi dia harus kehilangan, seperti saat dia kehilangan ayah dan ibunya. Maafkan aku kawan, aku tidak dapat menyelamatkan kalian, ucapnya sedih.

***

Magetan, 23 Juni 2020

#Challenge Menulis Fabel

#Omera Pustaka

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Post Bottom Ad

Responsive Ads Here