Alam dan sekitarnya sudah menyediakan bagi kita manfaat yang dapat kita ambil baik secara langsung maupun tidak. Sesuai dengan firman Allah yang berbunyi :
ٱلَّذِينَ يَذْكُرُونَ ٱللَّهَ قِيَٰمًۭا وَقُعُودًۭا وَعَلَىٰ جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِى خَلْقِ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَٰذَا بَٰطِلًۭا سُبْحَٰنَكَ فَقِنَا عَذَابَ ٱلنَّار
Artinya: (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk atau dalam keadaan berbaring, dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), “Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini sia-sia; Mahasuci Engkau, lindungilah kami dari azab neraka. (QS. Ali 'Imran: 191).
Bahkan binatang sekecil semut pun masih memberi manfaat bagi manusia. Sebagai komponen dalam ekosistem di alam semesta ini. Atau seekor nyamuk yang mungkin menggangu setiap malam-malam kita pun diciptakan dengan manfaat yang mungkin manusia belum merasakannya secara langsung.
Begitu pula dengan tanaman yang bertekstur gatal ini. Ya, siapa yang belum mengenal suweg? Tanaman yang memiliki nama latin Amorphophallus paeoniifolius ini masih kerabat bunga bangkai raksasa Amorphophallus titanum di Kebun Raya Bogor. Suweg merupakan tanaman yang memiliki umbi yang bisa dikonsumsi oleh manusia.
Berkaitan dengan suweg, sewaktu saya masih SMA mempunyai kisah menarik dengan tanaman yang satu ini. Walaupun teksturnya memiliki getah yang gatal, namun jika dapat mengolah suweg dengan tepat maka suweg akan menjadi makanan bernilai tinggi.
Prosesnya tidak mudah, karena selain bahan baku suweg yang agak sulit di musim kemarau, juga getah gatal yang membuat kami harus ekstra hati-hati saat mengupas sampai proses mengiris. Seperti kita ketahui, suweg termasuk tanaman yang melakukan dormansi jika musim kemarau tiba. Jadi jika kita mencari umbinya akan kesulitan karena daun dan batangnya sudah mati. Akan tetapi jika musim hujan tiba, maka secara sporadis akan muncul batang dan daunnya sehingga memudahkan untuk mencari tanaman ini.
Kami bertiga mengambil
suweg sebagai tema karena begitu banyak suweg di Magetan, namun pengolahannya
hanya seperti itu saja. Berbeda dengan singkong atau ubi jalar, orang-orang
dapat berkreasi mengolahnya menjadi makanan lain yang bernilai jual tinggi. Tak
heran orang-orang kurang suka dengan suweg, karena saat mengupas pun harus
berjuang melawan gatal dari getahnya.
Oleh karena itu penggunaan sarung tangan plastik atau karet sangat dianjurkan. Jika ibu-ibu di desa cukup menggunakan kresek atau plastik untuk menahan getah dari suweg. Selain itu perendaman dengan air garam juga digunakan untuk menatralisir getah gatal pada suweg.
Kami juga mencoba
merendam dengan abu sisa pembakaran. Pengolahan suweg menjadi keripik bukan hal
yang mudah juga bagi kami waktu itu. Apalagi tahun 1999 teknologi belum
secanggih sekarang. Jangankan internet, handphone saja kami belum punya.
Kemana-mana kami juga harus jalan kaki, hiks, belum sekaya sekarang, punya sepeda motor sendiri-sendiri, hehehe. Jadi untuk mencari referensi kajian pustaka kami benar-benar harus mencari ke perpustakaan. Benar-benar literasi yang mengenalkan kami pada suweg lewat majalah Trubus.
Tutorial membuat keripik suweg pun masih ala-ala anak SMA saja. Kalo sekarang mungkin praktik secepat kilat buka You Tube. Jaman itu kami benar-benar hanya dengan bimbingan guru pembina KIR kami yang sekarang sudah almarhum.
Suweg walaupun diolah menjadi keripik masih menyisakan rasa gatal. Untuk itu kami berinisiatif menaburi dengan gula halus sehingga sedikit bisa menutupi rasa gatalnya. Akhirnya dengan perjuangan yang tidak mudah, Alhamdulillah kami berhasil meraih juara III dan membawa pulang piala bagi SMA kami.
Begitulah, suweg yang gatal memberi kenangan pada kami bertiga. Dan ayat Allah selalu benar. Tidak ada sesuatu pun yang sia-sia di dunia ini. Semoga anak-anak jaman sekarang bisa semakin kreatif dengan kemudahan fasilitas yang sudah semakin canggih. Semangat selalu untuk terus berkarya, demi kemajuan bangsa. Salam literasi!
Magetan, 28 Juni 2020


Tidak ada komentar:
Posting Komentar